Ini pertemuan kesekian kita sejak pertama kali aku menjatuhkan mataku pada bayang dirimu yang berada disebrang sana. Kau asik membidik objek, sedangkan aku asik memandangimu. Hari itu hari dimana aku baru memulai kehidupan menjadi seorang mahasiswa. Awalnya aku tidak ingin jatuh cinta, awalnya aku berkomitmen untuk menutup hatiku rapat-rapat. Tapi siapa yang bisa menebak isi hati seseorang?
Sebab terlalu sering kumencinta tanpa balasan. Karena berulangkali aku diberi harapan kemudian dijatuhkan kedasar jurang. Cinta harusnya tidak menyakitkan, tidak sakit begitu parah. Namun apa yang sering kujadikan alasan untuk mencintai selalu menyakitkan hati.
Aku tak pernah berani menatap lebih jauh kedalam matamu, sebab aku terlalu takut untuk menerka dan terbelenggu didalamnya. Menurutku, mata adalah cermin yang tak pernah berbohong. Tidak seperti kertas yang dapat berubah menjadi kotor karena tertumpah tinta. Karena mata adalah perkataan paling jujur dibandingkan lisan. Sebab aku tak pernah berani menatapmu. Aku terlalu takut. Aku sangat takut. Takut menemukan hal yang bisa membuatku terjerembab dalam perasaan ini, kemudian retakan hati yang sudah kususun menjadi hancur lagi.
Biarkan aku menjadi penggemar rahasiamu saja. Cukup hanya memandangmu dari kejauhan. Cukup dengan menundukkan kepalaku dalam-dalam ketika kau melewati aku. Sebab aku terlalu takut memandang kedua mata indahmu.
Penikmat keindahanmu,
Aku
0 komentar:
Posting Komentar