Dahulu aku mengenalmu. Dahulu aku
dan kamu sering menciptakan tawa bersama. Dahulu kita pernah beriringan
menapaki sebuah jalan bersama-sama. Dahulu kita memiliki tujuan yang sama.
Betapa aku sangat bahagia saat kau menemaniku melewati bintang demi bintang
setiap malamnya.
Aku tak ingin segalanya cepat
berlalu. Namun waktu itu, aku tak sempat menghalau egoku. Seandainya dulu aku
tak menuruti kebodohanku, mungkin saja kita masih menjadi orang yang sama. Aku
kehilangan kamu. Genggamanmu lepas begitu saja ketika aku menahannya terlalu
erat. Sayangnya, kesempatan tak pernah mengizinkanku untuk memulai segalanya
lagi denganmu.
Aku yang salah, melepaskan kamu
yang jelas-jelas mencintaiku. Aku yang bodoh, meninggalkan kamu yang begitu
setia terhadapku. Aku yang terlalu kekanak-kanakan menghadapimu yang berusaha
mempertahankanku.
Tapi Tuhan selalu baik padaku,
memberikanku kesempatan untuk bertemu lagi denganmu. Aku dan kamu bertemu
disebuah persimpangan ketika kita sama-sama sedang terluka. Namun ada yang berbeda
denganmu. Kau berubah. Kau berbeda. Kau tak sama. Aku seperti tak mengenalmu.
Aku sadar, betapa dulu aku telah menciptakan luka yang masih membekas hingga
detik ini. Wajar jika kau masih menyimpan perih itu. Kau tak pernah salah,
mungkin aku yang terlalu memaksa.
Tak seharusnya aku menginginkanmu
untuk mengertiku seperti dulu kau mengertiku. Kini kau terlihat seperti orang
asing bagiku. Kau seperti tak tersentuh olehku. Duniamu kini tak sama lagi.
Nyatanya, selama jarak yang tercipta diantara kita mampu merubahmu menjadi
sosok yang berbeda. Aku hanya mampu tertegun.
Aku memberanikan diri untuk
memintamu kembali dalam pelukanku. Namun kau menolaknya secara halus. Aku hanya
bisa mengepalkan kedua tanganku dengan gelisah, terdiam kaku ditempatku. Kau
benar, waktu telah mengubah segalanya termasuk kamu dan cintamu. Tak semestinya
aku mengemis padamu. Karena penyesalan selalu datang terlambat hingga
kesempatan tak membiarkanku menjamah hidupmu lagi.
Maafkan aku.. maafkan aku..
0 komentar:
Posting Komentar